Tampilkan postingan dengan label Pentingkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pentingkah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2016

Perdebatan Murid Pandai dan Bodoh yang Penuh Pesan Moral

ilustrasi

taksampai.blogspot.com. Kisah Perdebatan Konyol Murid Pandai Dan Bodoh Yang Penuh Pesan Moral - Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain. Terkadang perbedaan pendapat tersebut berujung dengan perdebatan sengit yang tak kunjung menemui titik terang. Bahkan tak jarang hingga berujung kontak fisik dan permusuhan.

Nah agar perbedaan tidak berujung pada perkelahian atau permusuhan. Baiknya kita bicarakan berbedaan pendapat tersebut dengan baik-baik tanpa harus menggunakan emosi. Berbicara tentang perbedaan pendapat, ada sebuah kisah unik yang bisa menjadi renungan bagi kita semua, bahwa memperdebatkan perbedaan pendapat tidaklah akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah baru. Nah berikut kisah perdebatan konyol murid pandai dan bodoh yang penuh dengan pesan moral.

Kisah perdebatan ini berasal dari Tiongkok, dimana di Tiongkok ada seorang guru yang terkenal dengan ketegasan dan kejujurannya. Namun suatu ketika ada 2 murid yang menghadap guru tersebut, mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik.


Kisah Perdebatan Konyol Murid Pandai Dan Bodoh Yang Penuh Pesan Moral

Kedua murid tersebut ternyata memperdebatkan tentang hasil dari perkalian antara 3 x 7, dimana murid pandai mengatakatan 21 sedangkan murid bodoh mengatakan 27. Murid bodoh meminta kepada murid pandai untuk meminta guru yang dikenal tegas tersebut menjadi jurinya siapa yang benar diantara mereka berdua.

Murid bodoh mengatakan dengan sangat yakin "jika saya yang benar 3x7=27, maka engkau harus mau dicambuk 10 kali oleh guru. tapi jika kamu yang benar, yaitu 3x7=21, maka saya akan bersedia memenggal kepala saya sendiri"

"Katakan guru, siapa yang benar?" Tanya murid bodoh

Ternyata guru memilih memvonis 10 kali cambukan untuk murid pandai yang menjawab 3x7=21. Si murid pandai protes keras, namun guru tersebut menjawab "Hukuman ini bukan untuk hasil perhitunganmu, tetapi untuk ketidak Arifanmu yang mau-maunya berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21"

Guru melanjutkan "Lebih baik aku melihat kamu dicambuk 10 kali dan menjadi arif, dari pada aku melihat satu nyawa terbuang sia-sia"

Dengan adanya kisah konyol tersebut, tentu kita dapat mengambil pelajaran berharga. Jika kita hanya sibuk memperdebatkan sesuatu yang tidak berguna itu juga sama salahnya atau bahkan lebih salah dari pada orang yang memulai perdebatan. Hal tersebut dikarenakan secara tidak sadar kita telah membuang banyak waktu dan energi untuk hal yang tidak penting.

Meskipun demikian, hal tersebut sering terjadi dalam kehidupan kita, hanya kita tak menyadarinya. Jadi jangan sampai kita membuang energi, pikiran dan waktu kita hanya untuk hal yang tidak penting.

Demikianlah informasi tentang Kisah Perdebatan Konyol Murid Pandai Dan Bodoh Yang Penuh Pesan Moral. Semoga informasi diatas bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Terimakasih.

Sumber : viva

Baca Juga :

Rabu, 13 Juli 2016

Ilmu Batin adalah Ilmu Rahasia


taksampai.blogspot.com. Ketahuilah oleh anda, bahwa ilmu yang kami kemukakan dalam risalah ini adalah suatu ilmu rahasia yang halus dan dalam, jarang yang dapat memahaminya kecuali Ulama-ulama yang dalam pengertiannya (rasikh), yaitu mereka yang telah mendapatkan cahaya pada kata-katanya, suatu rahasia yang diwarisinya dari Para Nabi dan Para Aulia. Selain itu, mereka Ulama yang rasikh itu, benar-benar mengamalkan apa yang diamalkan oleh para Nabi dan Aulia, mereka telah mendapatkan “khashais” (beberapa keistimewaan) karena mengamalkan apa yang mereka ketahui. Allah berfirman :

“Wa Tilkanl-Amstaalu Nadlribuhaa Linnaasi,Wamaa Ya’qiluhaa Illal’Alimuun”

Artinya : “ Begitulah beberapa contoh dan missal yang kami kemukakan kepada manusia, namun tidak ada yang dapat memahaminya, kecuali orang-orang yang alim”

Rasulullah bersabda :

“ Nahhnu Ma’Aasyitul Anbiyaa’I Amaranaa an Nukallimannaasa’ Alaa Qadri ‘Uquulihim “

Artinya : Kami Para Nabi-nabi, Allah perintahkana kepada kami untuk berbicara kepada manusia, menurut tingkat kecerdasan mereka.

Menyampaikan hal-hal yang halus itu, bila tidak melihat tingkat kecerdasannya, maka akan menimbulkan fitnah dikalangan mereka. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w :

“ Maa Hadasta Ahadus Qauman Bi Hadiistin La Yablughuhu Uquluhum Illaa Kaana Fitnatan Lahum “

Artinya : Apapun yang dibicarakan seseorang kepada suatu kaum, dengan pembicaraan yang tingkat kecerdasan mereka tidak mampu untuk memahaminya, hanya akan menimbulkan fitnah terhadap mereka

Hadist Rasulullah :

“ innaa Minal ‘Ilmi Kahai’atil Maknuuni Laya’Lamuhu Illal ‘Aalimuun “

Artinya : Sesungguhnya ada ilmu itu laksana mutiara yang tersembunyi, tak ada yang mengetahui kecuali orang yang Alim Billah “

Orang yang Alim Billah itu ialah yang mengenal Dzat Allah, Sifat-sifatNya dan AsmaNya, serta Af’alNya. Allah menyertai ilmunya dan mereka amalkan dengan tekun apa yang mereka ketahui tanpa cacat. Imam Ghazali r.a menjelaskan di dalam Ihya ‘Ulumuddin : “ Larangan dimaksud berhubung sulit dan sukarnya faham”

Hadist selanjutnya menegaskan :

“ Ma Fadldlolakum Abuu Bakrin Bi Kastrati Shiyamin Wa Laa Bi Kastrati Sholaatin Walaakin Bisirrin Qorra Fii Sadrihi “

Artinya : Kelebihan Abu Bakar dari padamu, bukanlah karena banyak sholat dan banyak puasa, tetapi kelebihan itu karena suatu rahasia yang terletak didadanya “

Catatan :

Khusus untuk ini perlu sedikit penjelasan tentang :

1. Apa yang dimaksud rahasia dan .

2. Siapa yang dimaksudkan ahlinya.

Menurut kajian dan pengamatan, bahwa rahasia yang dimaksud menyangkut 2 segi. Pertama : Rahasia yang dapat dikatakan, ditulis dan dijabarkan. Kedua : Ada pula Rahasia yang tidak mungkin untuk diucapkan, ditulis dan dijabarkan. Menurut istilah, yang dimaksud rahasia adalah sesuatu yang tersembunyi. Didalam bahasa arab dikatakan “ SIR ” . Ilmu tersembunyi psykologi (ilmu jiwa) atau ilmu Batin adalah sesuatu ilmu yang membicarakan tentang apa-apa yang tersembunyi pada diri manusia. Ilmu ini adalah tergolong pada segi pertama diatas. Begitu pula tentang Ilmu Metafisika, ilmu yang mengungkapkan apa-apa yang ada dibalik alam nyata ini. Itupun juga termasuk ilmu yang tersembunyi. Rahasia pada segi kedua, ialah hakekat atau arti yang sebenar-benarnya dari sesuatu yang tersembunyi dari segi yang pertama itu. Misalnya, siapakah yang dapat menunjukkan secara tepa apakah itu “RASA”. Apakah rasa itu seperti Atom, molekul, Jauhar? Dan sebagainya… dan sebagainya.. Tak ada seorangpun yang sanggup menunjukkan dengan tepat, meskipun jaman kini sudah demikian majunya tehknologi. Tidak ada seorangpun yang dapat mengingkari adanya rasa? Namun tidak ada yg mampu mengetahui dengan pasti, apakah RASA itu?. Pembicaraan dalam pembahasan kita ini, adalah membicarakan hal-hal yang tersembunyi, yaitu pembicaraan sepanjang yang dapat ditulis, dikatakan dan dijabarkan, namun tetap dalam langkiran yang dikatakan isyarat dan itibar. Siapakah yang dimaksud Ahlinya ? Banyak yang menyangka dan berpendapat bahwa mempelajari tasawuf ketuhanan ini, haruslah sudah matang dalam hal-hal syariat, mendalam ilmu Fiqihnya, harus tahu segala hokum secara terperinci(tafshili). Katanya janganlah kita berikan ilmu rahasia ini kepada yang selain itu. Akhirnya banyak pengajian dalam hal ilmu ini secara sembunyi-sembunyi, diajarkan malah oleh orang yang bukan ahlinya. Manusia ingin mencari kepuasan batin dengan mencari ilmu kearah itu, akan tetapi bila diberati dengan bermacam syarat dan ketentuan yang dirasa sulit untuk dilaksanakan, akhirnya mereka mundur teratur atau timbul kecenderungan untuk pengisian batin itu dengan cara-cara yang praktis, yang malah timbul hasil sebaliknya tidak sesuai dengan ajaran yang benar. Tapi apa mau dikata, mereka merasa mendapat pengisian batin sesuai hajat mereka. Kita jangan heran, bahwa orang yang berada ditempat padang pasir yang sedang kehabisan air dan tidak menemukan apa-apa untuk pelepas dahaga, disaat demikian, air kotor yang bagaimanapun akan diminum. Sebagi yang disabdakan oleh Rasulullah, “ Kadal Faqru ‘Yuristul Kufra ‘, artinya :hampir saja orang yang faqir itu menderita kekafiran.

Guru-guru saya dan saya sendiri tidak sependapat, bahwa untuk mempelajari ilmu ini, harus lengkap dengan ilmu-ilmu yang lain. Pengertian yang dikatakan “ Ahlinya “ ialah orang-orang yang memiliki kecerdasan dan intelenjia untuk dapat memahami permasalahannya, dan ada kegairahan untuk mendalami masalah kebatinan. Tentu saja mereka sudah harus mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, meskipun pengertian mereka secara “ ijmali” (global = jumlah). Sebagai seorang muslim, mereka tentu mengerti dan mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat, puasa dan sebagainya yang mereka laksanakan. Apabila ada “ Ala Qadri ‘Uqulihim” (menurut ukuran kecerdasannya) ternyata tidak mungkin diberikan, maka jelas sekali akan membawa bahaya bagi si penuntut. Kecerdasan itu tentu saja dilihat dari segi usia atau umur yang menurut ilmu jiwa bahwa kecerdasan manusia sesuai dengan peningkatan umurnya. Dan tidak mungkin juga diberikan kepada seseorang meskipun cukup usia, tetapi sikapnya terlihat ciri-ciri kebodohan atau bebal. Hal ini tergantung dengan pengamatan seorang guru terhadap murid-muridnya. Kalau sekiranya kita gunakan pendapat yang pertama, dimana harus mendalami syariat, ilmu fiqih, dan lain-lain secara mendalam, apakah hal tersebut dapat dilakukan? Sedangkan waktu untuk mencurahkan perhatian terhadap hal tersebut memerlukan waktu yang panjang, bagaimana jika habis umur?.




Baca Juga :
Cerita Islam yang mengharukan
Video lucu dan menggemaskan lagi Smule Karaoke
Video resep makanan dari Dapur Umami
Video cewek-cewek pintar bermain bass dan drum
Tutorial Hijaber yang cantik dan anggun

Mengenal Diri Sendiri dapat Mengenal Tuhan



taksampai.blogspot.com. Mengenal diri dapat Mengenal Tuhan, setelah mengenal Tuhan dia tidak mengerti lagi terhadap dirinya.

Makrifat itu ta’alluq ( berhubungan ) dengan pengenalan terhadap diri. pengenalan diri berhubungan pula kepada pengenalan terhadap Allah. Selanjutnya bila seseorang itu sudah makrifat kepada Allah, barulah dia menyadari bahwa dia sendiri sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan apa-apa. Hadist Rasulullah :

” ‘Arafukum Birabbihi ‘Arafukum Binafsihi”

Artinya : ” Orang yang benar-benar makrifat kepada Allah, adalah yang lebih mengerti/ kenal terhadap dirinya “

Makrifat adalah ” Kasaf “ yang maksudnya, terbuka baginya hakikat segala sesuatu ini, Fana dirinya, kemudian fanalah fana itu sendiri, artinya bukan dirinya sendiri yang memfanakan, tetapi Allah-lah yang memfanakannya. Dari Tingkat ini langsung mencapai tingkat Baqo Billah,

yang maksudnya, Allah meliputi segala-galanya.

Akan terasa kemanisan dan keindahannya, lebih manis dari pada gula, lebih indah dari pada yang indah. Tentang Fana ini, dapat kita bagi dalam 3 tingkatan.
FANA ILMU : Fana segala sesuatu ini pada hakikatnya, dilihat dari segi ilmu dan pengetahuan anda.
FANA ‘AIN : Fananya segala sesuatu ini, sepanjang pandangan mata hati anda.
FANA HAQ : Fana dalam arti sebenarnya, fana dirinya dan fana yang dilihatnya menurut pengertian hakiki.


Ilmu tanpa Amal tidak Berguna



taksampai.blogspot.com. Seyogyanyalah anda mengamalkan segala ilmu yang anda ketahui, agar anda dapat kemenangan dunia dan akhirat, seperti yang telah kami sebutkan dalam risalah ini, karena Rasulullah bersabda :

” inna Asyaddan-nasi ‘Adzaaban Yaumal Qiyaamati, ‘Aalimun Lam Yanfa’hu ‘Ilmuhu”

Artinya : ” Sesungguhnya manusia yang mendapat azab yang paling hebat di Hari Kiamat ialah seorang yang berilmu tetapi tidak memanfaatkan ilmunya”

Syekh Ruslan r.a dalam syairnya berkata :

” Fa Aalimun’ Bi’ilmihi Lam Ya’malanna, Mu-adzdzabun Min Qabli ‘Aabidil Wastani”

Artinya : ” Seorang yang berpengetahuan tidak mengamalkan ilmunya, diazab lebih dahulu dari pada penyembah berhala “

Begitu pula suatu amal yang tidak didasarkan ilmu, maka amal yang demikian sama sekali tidak ada nilai dan harganya, bahkan mungkin membawa kesesatan. sebagai mana bunyi syair :

” Al-Ilmu Bighairi ‘Amalin Dzanbun Kabiirun Wal’Amalu Bighairi ‘ Ilmin Dlolalun Syadiidun”

Artinya : ” Ilmu tanpa amal dosa besar, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan yang nyata “

Ilmu dan amal memungkinkan seseorang mendapatkan ilmu laduni sebagaimana tersebut dalam Firman Allah:

” Wattaqullaaha wa Yu’Allimukumullaahu ‘

Artinya : ” Taqwalah kepada Allah, allah akan ajarkan ilmu langsung padamu.

Hadist Rasulullah s.a.w :

” Man ‘Amila Bimaa ‘Alima Warastahullaahu Ilma Maa Lam Ya’lam “

Artinya : ” Siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya, Allah akan mengajarkan kepadanya apa yang tidak pernah diketahuinya “

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang langsung dari pada Allah s.w.t. tanpa lebih dahulu dipelajari, suatu ilmu yang juga akan membawa dia ketingkat makrifatullah.

Seseorang tidak akan mencapai tingkat Makrifatullah tanpa ilmu laduni. Pengertian Makrifatullah itu sebenarnya adalah ” Allah yang memperkenalkan dirinya “.


Baca Juga :